"Anak-anak, benda apa yang salah satu sifatnya adalah mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah....? Ya? Jawabannya adalah....aa.....iiiir........"
"Anak kecil juga ta(h)u....", begitu kira-kira tanggapan kita (dalam hati) saat guru-guru kita menerangkan tentang sifat-sifat air.
Tapi memang seperi itulah salah satu sifat air, benda cair yang keberadaannya sangat menopang keberlangsungan sistem kehidupan manusia.Contoh yang sering kita dapati adalah aliran air di sungai. Termasuk banyu ngGawan (air sungai Bengawan Solo) yang saat ini luapannya (lagi-lagi) nyambangi (mengunjungi) warga masyaakat Desa Ngadirejo dan sekitarnya. Contoh lain adalah saat hujan turun dengan derasnya, aliran air yang tanpa penahan di daerah perbukitan atau lereng-lereng gunung seringkali mengikis dan membawa hanyut lapisan teratas tanah hingga bisa mencapai jarak kilo-an meter dari tempatnya semula. Orang menyebutnya banjir bandang atau banjir ngGunung. Tidak sedikit orang yang menggerutu karenanya. Yang jelas, bukan menggerutui sifat air tadi. Karena, sifat air diatas seringkali juga digunakan manusia dalam kehidupan sehari-harinya. Misalnya, sistem pembuatan talang atau saluran air di bagian atas bangunan mereka, kemudian juga saluran-saluran air lain pada umumnya. Demikian halnya juga dengan beberapa pengelola lapangan yang sengaja mendesain permukaan (lantai) lapangan "agak" miring. Tujuannya, ketika hujan turun genangan air saat itu tidak menjadikan lapangan tersebut tergenangi air wal becek. Dengan demikian, mereka tidak perlu "terlalu repot" menangani air tumpahan dari hujan.
Tiap orang punya hak untuk menyimpulkan tulisan ini. Yang jelas, dari satu sifat air ini saja banyak sekali pelajaran yang semestinya dapat kita ambil......
"Anak kecil juga ta(h)u....", begitu kira-kira tanggapan kita (dalam hati) saat guru-guru kita menerangkan tentang sifat-sifat air.
Tapi memang seperi itulah salah satu sifat air, benda cair yang keberadaannya sangat menopang keberlangsungan sistem kehidupan manusia.Contoh yang sering kita dapati adalah aliran air di sungai. Termasuk banyu ngGawan (air sungai Bengawan Solo) yang saat ini luapannya (lagi-lagi) nyambangi (mengunjungi) warga masyaakat Desa Ngadirejo dan sekitarnya. Contoh lain adalah saat hujan turun dengan derasnya, aliran air yang tanpa penahan di daerah perbukitan atau lereng-lereng gunung seringkali mengikis dan membawa hanyut lapisan teratas tanah hingga bisa mencapai jarak kilo-an meter dari tempatnya semula. Orang menyebutnya banjir bandang atau banjir ngGunung. Tidak sedikit orang yang menggerutu karenanya. Yang jelas, bukan menggerutui sifat air tadi. Karena, sifat air diatas seringkali juga digunakan manusia dalam kehidupan sehari-harinya. Misalnya, sistem pembuatan talang atau saluran air di bagian atas bangunan mereka, kemudian juga saluran-saluran air lain pada umumnya. Demikian halnya juga dengan beberapa pengelola lapangan yang sengaja mendesain permukaan (lantai) lapangan "agak" miring. Tujuannya, ketika hujan turun genangan air saat itu tidak menjadikan lapangan tersebut tergenangi air wal becek. Dengan demikian, mereka tidak perlu "terlalu repot" menangani air tumpahan dari hujan.
Tiap orang punya hak untuk menyimpulkan tulisan ini. Yang jelas, dari satu sifat air ini saja banyak sekali pelajaran yang semestinya dapat kita ambil......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar